Gelar Empat Pilar di Karawang, Teh Celly Rangkul Dewan Guru

|

15 Views

KARAWANG, INFODEMOKRASI.ID – Di tengah dinamika global yang kian tak menentu, penguatan fondasi kebangsaan menjadi agenda yang tidak bisa ditawar. Anggota MPR RI, dr. Hj. Cellica Nurrachadiana, atau yang akrab disapa Teh Celly, kembali menunjukkan komitmen dan kedekatannya dengan dunia pendidikan Islam melalui agenda Sosialisasi 4 Pilar MPR RI. Acara ini digelar secara khidmat di Brits Hotel, Karawang, pada Sabtu, 7 Februari 2026, dengan menghadirkan Pengurus serta Dewan Guru dari Pesantren Al-Ikhlas Muhammadiyah sebagai peserta utama.

Kehadiran Teh Celly dalam forum ini membawa misi penting: memastikan bahwa institusi pendidikan agama tetap menjadi benteng terdepan dalam menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Bagi Teh Celly, pesantren bukan sekadar tempat menimba ilmu agama, melainkan laboratorium besar yang mencetak karakter manusia Indonesia yang seutuhnya.

Pancasila sebagai Kompas di Era Disrupsi Digital

Dalam sesi dialog yang berlangsung interaktif dan penuh antusiasme, Teh Celly memaparkan materi dengan sangat lugas. Beliau menekankan bahwa empat pilar kebangsaan—Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika—adalah fondasi abadi yang harus dijaga agar tidak goyah oleh arus zaman. Tantangan hari ini, menurut Teh Celly, jauh lebih kompleks dibandingkan masa lalu. Gempuran tren New Economy dan disrupsi teknologi digital yang sangat pesat berpotensi mengikis jati diri bangsa jika tidak dibentengi dengan pemahaman ideologi yang kuat.

“Kita sedang berada di era di mana informasi mengalir tanpa batas. Namun, sehebat apa pun kemajuan teknologi yang kita raih, bahkan jika kita sudah sepenuhnya masuk ke dalam ekosistem ekonomi digital, karakter dan identitas nasional harus tetap menjadi kompas utama. Tanpa nilai-nilai Pancasila, kita akan kehilangan arah di tengah kemajuan dunia,” tegas mantan Bupati Karawang dua periode tersebut.

Beliau menambahkan bahwa penguatan 4 Pilar di lingkungan pesantren sangatlah strategis. Hal ini dikarenakan santri adalah generasi penerus yang memiliki pengaruh besar di tengah masyarakat. Dengan pemahaman kebangsaan yang matang, mereka diharapkan mampu menjadi penetralisir polarisasi dan penyebar pesan damai yang berlandaskan nilai-nilai luhur bangsa.

Agama dan Nasionalisme: Dua Pilar yang Saling Menguatkan

Suasana diskusi semakin hangat ketika salah satu perwakilan Dewan Guru menyampaikan aspirasi sekaligus kegelisahannya mengenai tantangan mendidik santri di era informasi terbatas namun penuh dengan konten hiburan yang melenakan. Menanggapi hal tersebut, Teh Celly merespons dengan penuh optimisme dan pandangan yang mencerahkan.

Beliau menyatakan dengan tegas bahwa dalam sejarah perjuangan bangsa, agama dan nasionalisme adalah dua pilar yang saling menguatkan, bukan dua hal yang saling memisahkan. “Seorang santri yang religius secara otomatis akan menjadi warga negara yang bertanggung jawab. Mengapa? Karena nilai-nilai luhur agama, seperti kejujuran, keadilan, dan kasih sayang, adalah intisari dari butir-butir Pancasila itu sendiri. Mencintai tanah air adalah sebagian dari iman,” ujar Teh Celly disambut tepuk tangan hadirin.

Teh Celly mendorong para dewan guru agar tidak ragu untuk terus mengintegrasikan nilai-nilai kebangsaan ke dalam kurikulum pesantren. Menurutnya, pemahaman agama yang mendalam akan melahirkan sikap toleransi (Tasamuh) yang menjadi kunci utama dari semboyan Bhinneka Tunggal Ika.

Mencetak Pemimpin Masa Depan berintegritas

Harapan besar pun disampaikan oleh Teh Celly agar Pesantren Al-Ikhlas Muhammadiyah mampu menjadi tempat lahirnya pemimpin masa depan yang memiliki “kecerdasan ganda”—yakni kecerdasan intelektual dan integritas moral yang kuat. Beliau berharap para pendidik tidak pernah lelah memberikan teladan nyata bagi para santri.

“Guru dan pengasuh pesantren adalah garda terdepan. Kalian adalah pendidik yang membentengi generasi muda dari paham-paham radikal atau ideologi yang bertentangan dengan jati diri bangsa. Tugas ini berat, namun sangat mulia bagi masa depan NKRI,” imbuhnya.

Di akhir acara, para peserta menyampaikan apresiasi yang tinggi atas inisiatif Teh Celly. Dialog ini diakui memberikan motivasi baru bagi para pendidik untuk tidak hanya mengajar teks-teks keagamaan, tetapi juga menyisipkan semangat patriotisme dalam setiap nafas pendidikan di pesantren. Melalui kegiatan ini, diharapkan kolaborasi antara parlemen dan institusi pendidikan agama semakin erat, demi mewujudkan Indonesia yang lebih harmonis, maju, dan tetap berakar pada budayanya sendiri.

Avatar Marwan

Artikel Menarik Lainnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *