KARAWANG, INFODEMOKRASI.ID – Di tengah suasana khidmat dan penuh inspirasi di kawasan Museum dan Galeri SBY-ANI, Pacitan, sebuah diskusi strategis mengenai masa depan bangsa digelar. Anggota Komisi IX DPR RI, dr. Hj. Cellica Nurrachadiana, M.H.Kes., yang akrab disapa Teh Celly, hadir memenuhi undangan dalam forum bergengsi Yudhoyono Dialogue Forum (YDF). Forum yang mengusung tema besar “New Economy, New Road to Prosperity” ini menjadi magnet bagi para pemikir dan praktisi untuk merumuskan peta jalan ekonomi baru Indonesia di tengah ketidakpastian global yang kian kompleks.
Dalam kesempatan tersebut, Teh Celly menyampaikan apresiasi dan rasa terima kasih yang mendalam kepada Direktur Eksekutif The Yudhoyono Institute, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY). Bagi Teh Celly, forum ini bukan sekadar ajang silaturahmi, melainkan kawah candradimuka untuk menyerap wawasan dan ilmu tingkat tinggi dari para pakar yang telah teruji secara nasional maupun internasional.
Menavigasi Tantangan Ekonomi Baru (New Economy)
Teh Celly menekankan bahwa dunia, termasuk Indonesia, saat ini tidak lagi sekadar menghadapi perubahan, melainkan disrupsi besar-besaran. Istilah New Economy yang diangkat dalam forum tersebut merujuk pada pergeseran fundamental yang ditandai dengan percepatan teknologi digital, krisis iklim yang nyata, serta perubahan drastis pada rantai pasok global. Menurut Teh Celly, pendekatan ekonomi konvensional yang hanya berfokus pada eksploitasi sumber daya alam sudah tidak lagi memadai untuk menjawab tantangan zaman.
“Kita sedang berada di persimpangan jalan. Dunia menuntut kita untuk beradaptasi dengan cara-cara baru. Kita memerlukan jalan baru menuju kemakmuran (New Road to Prosperity) yang tidak hanya mengejar angka pertumbuhan statistik semata. Pertumbuhan ekonomi harus berbanding lurus dengan keberlanjutan lingkungan, ketahanan nasional, dan yang terpenting adalah inklusivitas jangka panjang,” ujar Teh Celly dalam sela-sela forum tersebut.
Beliau menambahkan bahwa keberhasilan sebuah kebijakan ekonomi tidak boleh hanya dinilai dari seberapa besar investasi yang masuk, tetapi seberapa besar dampak nyata yang dirasakan oleh pedagang pasar, buruh pabrik, hingga petani di pelosok daerah secara merata. Inilah inti dari ekonomi yang berkeadilan.
Menimba Inspirasi dari Para Maestro Bangsa
Kualitas diskusi di YDF kali ini semakin berbobot dengan kehadiran deretan narasumber yang merupakan tokoh-tokoh kunci di bidangnya masing-masing. Teh Celly secara aktif menyimak paparan dari para tokoh seperti Prof. DR. Ir. Mohammad Nuh yang mengulas transformasi pendidikan, DR. Ilham Akbar Habibie yang menekankan pentingnya kedaulatan teknologi, hingga Otto Toto Sugiri yang merupakan pionir pusat data nasional.
Tak ketinggalan, wawasan mengenai kewirausahaan dan ketahanan ekonomi rakyat dipaparkan oleh DR. (H.C) drg. Chairul Tanjung, sementara perspektif akademis dan makroekonomi disampaikan oleh Prof. DR. IR. Hermanto Siregar serta DR. Jose Rizal Damuri.
Acara ditutup dengan sesi yang paling dinantikan, yakni Closing Remarks dari Presiden ke-6 Republik Indonesia, Prof. DR. Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Teh Celly menyebut sosok SBY bukan hanya sebagai mentor senior, tetapi juga guru bangsa dan orang tua yang selalu memberikan pandangan jernih serta tenang dalam melihat masa depan bangsa. Wejangan SBY mengenai pentingnya menjaga keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi dan stabilitas sosial menjadi catatan penting yang dibawa pulang oleh Teh Celly.
Komitmen Memperjuangkan Kebijakan Pro-Rakyat di Parlemen
Wawasan multidimensi yang didapat dari YDF ini, menurut Teh Celly, akan menjadi amunisi intelektual yang sangat berharga bagi tugas-tugasnya di parlemen, khususnya di Komisi IX DPR RI. Perubahan struktur produksi dan pasar tenaga kerja akibat kemajuan kecerdasan buatan (AI) dan otomasi adalah isu nyata yang harus diantisipasi melalui regulasi yang tepat.
“Barakallahu Fiikum. Pengalaman dan ilmu dari para tokoh luar biasa ini adalah modal besar bagi kami di Senayan. Tugas kami adalah menerjemahkan pemikiran strategis ini menjadi kebijakan yang pro-rakyat, memastikan tenaga kerja kita terlindungi, dan sistem kesehatan kita siap menghadapi dinamika ekonomi baru,” pungkas Teh Celly.
Melalui forum seperti YDF, optimisme untuk melihat Indonesia yang lebih makmur dan berdaulat di tahun-tahun mendatang semakin kuat. Teh Celly membuktikan bahwa sinergi antara pemikiran akademis, pengalaman praktis tokoh bangsa, dan tindakan legislatif adalah kunci pembuka jalan menuju kemakmuran yang hakiki.







Tinggalkan Balasan