BEKASI, INFODEMOKRASI.ID โ Dalam upaya meningkatkan kesadaran kesehatan masyarakat di tengah maraknya produk pangan olahan, Teh Celly bersama Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) menggelar sosialisasi edukatif di Bekasi, Jumat (06/03/2026).
Kegiatan ini difokuskan pada pemberdayaan masyarakat agar lebih cerdas dalam memilih produk pangan dan obat-obatan guna mencegah penyakit tidak menular seperti diabetes serta komplikasi ginjal.
Budaya Baca Label: Cek Gula dan Protein
Teh Celly menekankan bahwa kesehatan keluarga dimulai dari ketelitian saat berbelanja. Ia mengajak warga untuk tidak hanya melihat merek atau harga, tetapi secara serius memperhatikan Informasi Nilai Gizi pada kemasan makanan dan minuman.
“Bapak dan Ibu, mulai sekarang harus cerewet baca kemasan. Lihat berapa gram gulanya, berapa persen proteinnya. Jangan sampai kita menyuguhkan ‘racun manis’ buat anak-anak kita setiap hari,” ujar Teh Celly di hadapan ratusan warga.
Poin utama edukasi gizi meliputi:
- Waspada Gula: Membatasi konsumsi produk dengan kandungan gula tinggi untuk mencegah obesitas dan diabetes sejak dini.
- Kecukupan Protein: Memastikan produk yang dibeli benar-benar memberikan asupan nutrisi, bukan sekadar kalori kosong.
- Cek KLIK: Mengingatkan rumus BPOM yaitu Cek Kemasan, Cek Label, Cek Izin Edar, dan Cek Kedaluwarsa.
Pentingnya Label Halal dan Keamanan Pangan
Selain nutrisi, Teh Celly dan tim BPOM juga mengingatkan pentingnya memastikan adanya Logo Halal yang resmi dari BPJPH/MUI. Menurutnya, aspek halal tidak hanya soal syariat, tetapi juga jaminan bahwa produk tersebut melalui proses produksi yang bersih (thayyib) dan aman bagi tubuh.
Peringatan Keras: Kurangi Konsumsi “Obat Warung”
Salah satu poin krusial yang disampaikan dalam kegiatan ini adalah kekhawatiran terhadap kebiasaan masyarakat yang sering membeli obat keras di warung kelontong tanpa resep dokter atau pengawasan tenaga medis.
“Banyak dari kita kalau pusing sedikit atau pegal-pegal, langsung lari ke warung beli obat setelan atau obat keras. Tolong dikurangi, kalau bisa dihentikan. Konsumsi obat kimia tanpa dosis yang tepat dalam jangka panjang bisa merusak ginjal,” tegas Teh Celly.
BPOM Bekasi turut menambahkan bahwa masyarakat harus lebih bijak membedakan obat bebas (lingkaran hijau), obat bebas terbatas (lingkaran biru), dan obat keras (lingkaran merah huruf K) yang hanya boleh dibeli di apotek dengan resep dokter.
Harapan untuk Masyarakat Bekasi
Melalui kegiatan ini, diharapkan warga Bekasi menjadi konsumen yang berdaya. BPOM berjanji akan terus melakukan pengawasan lapangan, namun peran aktif masyarakat sebagai pemutus rantai peredaran produk berbahaya sangatlah penting.
Acara ditutup dengan praktik langsung membaca label kemasan bersama perwakilan warga, untuk memastikan pesan edukasi benar-benar dipahami dan bisa dipraktikkan di rumah masing-masing.







Tinggalkan Balasan