JAKARTA, INFODEMOKRASI.COM — Anggota Komisi IX DPR RI, dr. Hj. Cellica Nurrachadiana, M.H.Kes., menegaskan bahwa perang melawan Tuberkulosis (TBC) di Indonesia tidak bisa hanya dibebankan pada pundak sektor kesehatan. Hal ini disampaikan Teh Celly usai mengikuti Rapat Panja Pengawasan Percepatan Eliminasi TBC 2030 bersama jajaran mitra strategis seperti IDI, PDPI, STPI, PERSI, PAPDI, hingga FKUB di Senayan, hari ini.
Sebagai seorang dokter, Teh Celly memberikan perhatian serius pada empat poin krusial yang harus segera dieksekusi pemerintah agar target Indonesia bebas TBC pada tahun 2030 bukan sekadar angan-angan.
“Eliminasi TBC adalah isu multidimensi yang menyentuh aspek sosial, ekonomi, hingga budaya. Pendekatannya tidak boleh kaku secara medis saja, tapi harus multisektor. Kolaborasi antara pemerintah, organisasi profesi, dan tokoh masyarakat adalah harga mati,” tegas Teh Celly.
Dalam rapat tersebut, Teh Celly menyoroti beberapa catatan kritis:
- Pendekatan Multisektor: Menghapus stigma TBC memerlukan keterlibatan lintas kementerian dan lembaga, bukan hanya Kementerian Kesehatan.
- Pemerataan Akses: Beliau mendesak agar layanan TBC tidak hanya terkonsentrasi di kota besar. Daerah dengan tantangan geografis sulit harus mendapatkan distribusi logistik obat dan alat deteksi yang sama baiknya.
- Literasi & Deteksi Dini: Teh Celly miris melihat banyaknya pasien yang baru datang ke RS saat kondisi sudah parah. Beliau meminta pelibatan tokoh agama (FKUB) dan kader akar rumput untuk mengedukasi masyarakat agar tidak takut memeriksakan diri.
- Nasionalisasi Best Practice: Praktik penanganan TBC yang sukses di daerah tertentu harus segera diadopsi menjadi kebijakan nasional agar daerah lain tidak perlu memulai dari nol.
Teh Celly juga menekankan bahwa komitmen politik harus dibarengi dengan keberpihakan anggaran dan penguatan SDM kesehatan. Tanpa dukungan finansial yang kuat untuk penemuan kasus aktif (active case finding), rantai penularan TBC akan sulit diputus.
“Sebagai anggota Komisi IX, saya berkomitmen mengawal agenda ini agar tidak berhenti sebagai wacana. Eliminasi TBC harus menjadi aksi nyata yang manfaatnya benar-benar dirasakan rakyat,” tutupnya.







Tinggalkan Balasan