KARAWANG, INFODEMOKRASI.ID โ Langkah nyata dalam memperkuat ketahanan gizi masyarakat terus digencarkan di wilayah Karawang. Kemarin, bertempat di Desa Kutamakmur, Kecamatan Kutawaluya, Teh Celly bersama jajaran mitra kerja Badan Gizi Nasional (BGN) menggelar sosialisasi intensif untuk mendukung percepatan Program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Kegiatan ini menjadi momentum penting untuk menyelaraskan pemahaman mengenai standar baru pemenuhan nutrisi yang akan diterapkan secara masif pada tahun 2026, dengan fokus utama pada penyelamatan generasi dari ancaman stunting dan gizi buruk.
Intervensi Gizi: SPPG Wajib Kedepankan Menu Seimbang
Dalam arahannya, Teh Celly menegaskan bahwa Satuan Pelayanan Pangan Gizi (SPPG) memiliki tanggung jawab moral dan administratif untuk menjaga kualitas sajian. Ia menekankan bahwa SPPG tidak boleh hanya sekadar menyediakan makanan, tetapi harus mengutamakan gizi yang seimbang sesuai standar medis.
“Tahun 2026 adalah tahun krusial. Saya tegaskan kepada seluruh pengelola SPPG bahwa komposisi karbohidrat, protein hewani, sayuran, dan buah harus presisi. Kita tidak ingin program ini hanya menggugurkan kewajiban, tapi harus menjadi intervensi nyata bagi kesehatan masyarakat,” tegas Teh Celly di hadapan para mitra kerja BGN dan warga Desa Kutamakmur.
Sasaran Prioritas 2026: Ibu Hamil hingga Balita
Program MBG di tahun 2026 secara spesifik memperluas cakupan sasaran untuk menciptakan perlindungan gizi sejak dini. Adapun target utama penerima manfaat meliputi:
- Ibu Hamil: Untuk mencegah risiko bayi lahir dengan berat badan rendah dan stunting sejak dalam kandungan.
- Ibu Menyusui: Memastikan kualitas ASI optimal bagi tumbuh kembang bayi.
- Balita: Sebagai periode emas pertumbuhan yang tidak boleh terlewatkan dari asupan gizi berkualitas.
Efisiensi Distribusi: Radius 6 KM dari Sekolah dan Posyandu
Salah satu poin teknis yang disosialisasikan adalah pemaksimalan titik SPPG untuk menjamin efisiensi waktu dan kesegaran makanan. Teh Celly menjelaskan bahwa penempatan titik SPPG akan diatur secara strategis dengan radius maksimal 6 kilometer di sekitar sekolah-sekolah dan Posyandu.
“Tujuannya jelas, agar penerima manfaat lebih terjangkau. Dengan radius yang pendek, waktu distribusi menjadi lebih singkat sehingga makanan sampai ke tangan ibu hamil dan anak-anak dalam kondisi yang tetap segar dan hangat. Ini adalah bentuk efisiensi yang kita kejar agar target gizi tercapai maksimal,” tambahnya.
Sinergi Mitra Kerja dan Masyarakat
Pihak BGN yang hadir dalam sosialisasi tersebut menyatakan kesiapannya untuk melakukan supervisi berkala terhadap SPPG di wilayah Kutawaluya. Sinergi antara wakil rakyat, lembaga teknis, dan perangkat desa seperti di Kutamakmur diharapkan menjadi model percontohan bagi desa-desa lain di Karawang dalam menyukseskan visi nasional pembangunan manusia yang berkualitas.
Warga Desa Kutamakmur menyambut baik sosialisasi ini, terutama para ibu yang berharap program ini dapat meringankan beban ekonomi sekaligus meningkatkan taraf kesehatan keluarga mereka.







Tinggalkan Balasan