KARAWANG, INFODEMOKRASI.ID — Sebuah pemandangan politik yang menyejukkan sekaligus edukatif tersaji dalam acara “Dialog Wakil Rakyat” yang digelar di Kabupaten Karawang hari ini. Dua tokoh perempuan yang memiliki pengaruh signifikan di basis massa, dr. Hj. Cellica Nurrachadiana, M.H.Kes (Anggota Komisi IX DPR RI) dan Hj. Sri Rahayu Agustina, S.H. (Anggota DPRD Provinsi Jawa Barat), tampil bersama dalam satu panggung untuk berdialog langsung dengan masyarakat.
Kehadiran keduanya menjadi simbol kuat bahwa di mata para pelayan publik ini, kepentingan rakyat harus berada jauh di atas sekat-sekat kepartaian maupun ego sektoral. Penampilan duet ini dipandang sebagai model ideal komunikasi politik, di mana koordinasi antara wakil rakyat di tingkat Pusat (Senayan) dan tingkat Provinsi (Bandung) berjalan selaras demi satu tujuan: kesejahteraan warga Karawang.
Politik Pengabdian Tanpa Jeda
Dalam diskusi yang berlangsung hangat dan gayeng tersebut, dr. Hj. Cellica Nurrachadiana, atau yang akrab disapa Teh Celly, menegaskan bahwa kolaborasi lintas tingkatan parlemen adalah kebutuhan mendesak di tengah kompleksitas persoalan masyarakat saat ini. Menurutnya, sebuah keluhan warga seringkali memerlukan penyelesaian yang melibatkan berbagai jenjang kewenangan.
“Politik itu ada masanya, ada kontestasinya, tapi pengabdian kepada rakyat tidak boleh ada jedanya sedikit pun. Hari ini saya dan Ibu Sri Rahayu duduk bersama bukan sebagai representasi warna partai yang berbeda, melainkan sebagai pelayan masyarakat Karawang yang memiliki tanggung jawab moral yang sama. Kami ingin memastikan sinergi antara kebijakan di Pusat dan Provinsi benar-benar sinkron dan dirasakan manfaatnya di tingkat bawah,” ujar Teh Celly.
Beliau menambahkan bahwa sinkronisasi data dan program antara pusat dan daerah seringkali menjadi kendala di lapangan. Dengan adanya komunikasi langsung seperti ini, hambatan administratif dapat diminimalisir.
Membedah Isu Kesehatan, Ekonomi, dan Infrastruktur
Beberapa isu krusial menjadi bahasan utama dalam dialog yang dihadiri oleh ratusan warga tersebut. Isu-isu tersebut meliputi:
- Optimalisasi Layanan BPJS: Teh Celly yang membidangi kesehatan di Komisi IX menyoroti kepastian layanan faskes, sementara Sri Rahayu memantau ketersediaan anggaran jaminan kesehatan di tingkat Provinsi.
- Pemberdayaan Ekonomi Perempuan: Keduanya sepakat bahwa penguatan UMKM perempuan adalah kunci ketahanan keluarga pascabencana ekonomi.
- Kualitas Infrastruktur Pelosok: Kolaborasi ini memungkinkan pemetaan yang jernih; jalan desa mana yang memerlukan intervensi Dana Desa (Pusat) dan mana yang menjadi kewenangan jalan Provinsi.
Memecah Kebuntuan Birokrasi
Senada dengan hal tersebut, Hj. Sri Rahayu Agustina, S.H. menyampaikan apresiasi yang mendalam terhadap langkah kolaboratif ini. Baginya, harmonisasi antara wakil rakyat adalah kunci utama untuk memecah kebuntuan birokrasi yang seringkali menghambat percepatan realisasi aspirasi masyarakat di tingkat daerah.
“Masyarakat kita sudah cerdas, mereka tidak butuh perdebatan warna atau bendera, yang mereka butuh adalah solusi nyata atas masalah sehari-hari. Saya sangat mengapresiasi semangat Teh Celly yang selalu terbuka untuk berkolaborasi. Dengan turun bersama seperti ini, kita bisa memetakan masalah secara presisi; mana yang menjadi porsi kewenangan saya di Provinsi dan mana yang harus kita dorong melalui Teh Celly ke tingkat kementerian di Pusat,” jelas Sri Rahayu.
Simbol Transparansi dan Tanggung Jawab Moral
Acara yang dihadiri oleh berbagai elemen masyarakat—mulai dari kader Posyandu, tokoh agama, hingga pelaku UMKM kreatif—ini diakhiri dengan sesi tanya jawab yang sangat produktif. Warga terlihat antusias karena merasa mendapatkan akses langsung ke dua level pemerintahan sekaligus.
Teh Celly berkomitmen bahwa aksi “duet srikandi” ini tidak akan berhenti sebagai agenda seremonial satu kali saja. Beliau berencana untuk terus melanjutkan safari dialog ini di berbagai titik lainnya di Karawang sebagai bentuk transparansi dan tanggung jawab moral kepada para konstituen yang telah memberikan amanah.
“Kami ingin menunjukkan bahwa di Karawang, harmoni politik itu nyata dan bisa bekerja untuk rakyat. Jika wakil rakyatnya kompak dan saling mendukung, rakyatnya pun akan merasa lebih tenang, optimis, dan sejahtera,” tutup Teh Celly diiringi riuh tepuk tangan peserta dialog.
Melalui kebersamaan ini, kedua tokoh tersebut mengirimkan pesan kuat kepada publik bahwa kolaborasi adalah energi baru dalam membangun daerah, mengesampingkan perbedaan demi kemajuan bersama di tahun 2026 ini.







Tinggalkan Balasan