Teh Celly Bersama Kemenkes dan Dinkes Bekasi Galakkan GERMAS

|

4 Views

BEKASI, INFODEMOKRASI.ID โ€“ Masalah sanitasi dan akses air bersih menjadi fokus utama dalam kunjungan kerja Teh Celly yang menggandeng Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI dan Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Bekasi. Dalam acara sosialisasi Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (GERMAS) hari ini, Jumat (06/03/2026), masyarakat diperingatkan akan bahaya laten pembuangan kotoran manusia yang tidak memenuhi standar kesehatan.

Kegiatan yang dihadiri oleh ratusan kader posyandu dan tokoh masyarakat ini menekankan bahwa pembuangan tinja yang sembarangan bukan hanya masalah estetika, melainkan sumber utama penyebaran penyakit mematikan.

Mekanisme Pembuangan Tinja yang Sehat

Teh Celly menekankan bahwa masih banyak warga yang menggunakan “jamban helikopter” atau membuang kotoran langsung ke aliran sungai. Hal ini sangat berbahaya karena menjadi media perkembangbiakan bakteri E. coli, virus hepatitis, hingga parasit cacing.

Dalam sosialisasi tersebut, dijelaskan mekanisme pembuangan tinja yang benar sesuai standar kesehatan:

  1. Penggunaan Septic Tank Kedap Air: Memastikan kotoran tidak merembes ke dalam tanah yang dapat mencemari sumur warga.
  2. Jarak Aman dari Sumber Air: Jarak antara lubang penampungan tinja dengan sumur air bersih minimal 10 hingga 11 meter.
  3. Sistem Ventilasi: Septic tank harus memiliki pipa udara agar gas hasil penguraian dapat keluar dengan aman dan tidak meledak.
  4. Penyedotan Rutin: Masyarakat diimbau melakukan penyedotan minimal 3-5 tahun sekali untuk mencegah peluapan kotoran ke lingkungan.

“Jika kotoran dibuang sembarangan, bakteri dan virusnya bisa terbang dibawa lalat atau meresap ke air sumur yang kita pakai buat mandi dan masak. Dampaknya bisa diare kronis, kolera, hingga stunting pada anak-anak kita,” tegas Teh Celly.

Implementasi dan Akses Air Bersih di Kabupaten Bekasi

Selain masalah tinja, kolaborasi ini juga menyoroti implementasi program air bersih di wilayah Kabupaten Bekasi yang memiliki tantangan geografis unik, terutama di daerah utara yang rawan kekeringan dan intrusi air laut.

Teh Celly bersama Dinkes Bekasi memaparkan beberapa langkah implementasi yang sedang berjalan:

  • Program Pamsimas (Penyediaan Air Minum dan Sanitasi Berbasis Masyarakat): Membangun instalasi air bersih komunal di desa-desa yang belum terjangkau jaringan PDAM.
  • Pembangunan Jamban Sehat Keluarga: Pemberian stimulan berupa bantuan pembuatan septic tank bagi keluarga kurang mampu untuk menghentikan perilaku Buang Air Besar Sembarangan (BABS).
  • Pemantauan Kualitas Air: Dinkes Kabupaten Bekasi secara rutin melakukan uji laboratorium terhadap sampel air sumur warga untuk memastikan bebas dari kontaminasi bakteri patogen.

Ancaman Penyakit Menular

Perwakilan dari Kemenkes RI menambahkan bahwa sanitasi yang buruk berkontribusi besar terhadap penyebaran penyakit virus seperti Polio dan Rotavirus. “Kita tidak ingin ada kejadian luar biasa (KLB) hanya karena masalah pembuangan kotoran yang tidak dikelola dengan baik. Sanitasi adalah benteng pertama kesehatan kita,” ujarnya.

Teh Celly menutup acara dengan mengajak warga untuk berkomitmen menjadi “Duta Sanitasi” di lingkungan masing-masing. Ia berharap Kabupaten Bekasi bisa segera mencapai target Open Defecation Free (ODF) atau 100% bebas buang air besar sembarangan dalam waktu dekat.

Avatar Marwan

Artikel Menarik Lainnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *