BEKASI, INFODEMOKRASI.ID – Keamanan konsumsi obat-obatan di tingkat rumah tangga kini menjadi perhatian serius otoritas kesehatan nasional. Anggota Komisi IX DPR RI, dr. Hj. Cellica Nurrachadiana, M.H.Kes (Teh Celly), bergerak cepat memberikan edukasi kepada warga Bekasi mengenai pentingnya kecerdasan dalam menggunakan obat. Bekerja sama dengan Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI, beliau menggelar sosialisasi masif Gerakan Masyarakat Cerdas Menggunakan Obat (GEMA CERMAT) guna meminimalisir risiko kesalahan pengobatan yang masih sering terjadi di tengah masyarakat.
Kegiatan yang dihadiri oleh ratusan warga ini dilatarbelakangi oleh maraknya kebiasaan masyarakat yang cenderung melakukan pengobatan mandiri (self-medication) tanpa literasi yang cukup. Fenomena mengonsumsi obat keras tanpa resep dokter atau ketidakpahaman mengenai dosis yang tepat masih menjadi tantangan besar dalam kesehatan publik.
Obat Adalah Racun Jika Disalahgunakan
Dalam arahannya yang lugas namun penuh perhatian, dr. Hj. Cellica Nurrachadiana menekankan bahwa setiap butir obat pada dasarnya bisa menjadi racun jika tidak digunakan sesuai aturan medis yang benar. Sebagai seorang praktisi medis yang kini duduk di parlemen, Teh Celly merasa memiliki tanggung jawab moral untuk memahamkan konsep “Dagusibu” kepada setiap kepala keluarga.
“Masih banyak warga yang membeli antibiotik sendiri tanpa resep atau menyimpan obat lama yang sudah kedaluwarsa di kotak P3K mereka. Hal ini sangat berbahaya, bukan hanya menghambat penyembuhan, tetapi bisa merusak fungsi ginjal dan kesehatan jangka panjang. Melalui GEMA CERMAT, saya ingin warga Bekasi lebih cerdas dan teliti. Mencegah bahaya salah obat adalah langkah awal paling sederhana untuk menjaga keselamatan keluarga kita,” tegas Teh Celly dengan penuh penekanan.
Konsep Dagusibu yang ia paparkan meliputi:
- Dapatkan: Memastikan obat dibeli di faskes atau apotek resmi.
- Gunakan: Mengonsumsi obat sesuai instruksi dosis dan waktu yang tepat.
- Simpan: Menyimpan obat pada suhu dan tempat yang tidak terpapar sinar matahari langsung.
- Buang: Memusnahkan obat yang sudah kedaluwarsa dengan cara yang benar agar tidak disalahgunakan atau mencemari lingkungan.
Ancaman Resistensi Antibiotik dan Peran Apoteker
Teh Celly juga memberikan peringatan keras terkait bahaya resistensi antibiotik. Penggunaan antibiotik yang tidak tuntas atau dikonsumsi saat sakit yang disebabkan oleh virus (seperti flu biasa) dapat memicu kuman dalam tubuh menjadi kebal. Jika ini terjadi, di masa depan, infeksi yang sebelumnya mudah disembuhkan bisa menjadi sangat fatal karena tidak ada lagi obat yang mampu membunuh bakteri tersebut.
Beliau mendorong masyarakat untuk selalu proaktif dan tidak sungkan bertanya kepada apoteker atau tenaga medis resmi sebelum mengonsumsi obat-obatan tertentu. “Apoteker adalah sahabat masyarakat dalam urusan obat. Tanyakan efek sampingnya, tanyakan interaksi obatnya dengan makanan. Jadilah konsumen yang kritis demi keselamatan diri sendiri,” tambah mantan Bupati Karawang tersebut.
Sinergi Komisi IX dan Kemenkes RI
Hadir mendampingi Teh Celly, perwakilan dari Kementerian Kesehatan RI turut memberikan materi teknis mengenai cara membaca label obat dengan benar. Warga diajarkan untuk mengenali golongan obat melalui tanda lingkaran berwarna di kemasan: hijau untuk obat bebas, biru untuk obat bebas terbatas, dan merah dengan huruf ‘K’ untuk obat keras yang wajib menggunakan resep dokter.
Selain itu, edukasi juga difokuskan pada pengenalan nomor izin edar resmi dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). Sinergi antara Komisi IX dan Kemenkes ini diharapkan dapat menurunkan angka kejadian efek samping obat (adverse drug reactions) serta menekan angka penyalahgunaan obat-obatan di tingkat rumah tangga yang seringkali bermula dari ketidaktahuan.
Membangun Masyarakat Mandiri dan Bijak
Kegiatan edukasi ini disambut antusiasme luar biasa oleh warga Bekasi. Sesi tanya jawab menjadi bagian yang paling hidup, di mana warga berkonsultasi mengenai berbagai hal, mulai dari cara membuang obat sirup yang benar hingga cara menyimpan insulin bagi penderita diabetes.
Teh Celly berkomitmen untuk terus mengawal program GEMA CERMAT ini agar tidak hanya menjadi kegiatan seremonial, melainkan tumbuh menjadi kesadaran kolektif. Beliau berencana membawa aspirasi dari Bekasi ini ke meja rapat di Senayan untuk memastikan program edukasi literasi kesehatan mendapatkan porsi anggaran dan perhatian yang lebih besar dari pemerintah.
“Masyarakat yang cerdas menggunakan obat adalah masyarakat yang sadar akan hak kesehatannya. Mari kita budayakan bertanya kepada ahlinya dan jangan mudah tergiur informasi obat yang tidak jelas sumbernya di media sosial atau WhatsApp grup. Kesehatan adalah aset, mari kita jaga dengan ilmu,” pungkas dr. Hj. Cellica Nurrachadiana.







Tinggalkan Balasan