KARAWANG, INFODEMOKRASI.ID โ Badan Aspirasi Masyarakat (BAM) DPR RI melakukan terobosan signifikan dalam menjalankan fungsi representasi parlemen melalui penyelenggaraan Festival Aspirasi Pertanian. Kegiatan yang berlangsung meriah di Kabupaten Karawang ini dirancang sebagai wadah inklusif untuk menjemput langsung suara para petani dari akar rumput. Hadir secara langsung dalam agenda ini, Ketua BAM DPR RI, Ahmad Heryawan (Aher), didampingi anggota DPR RI, dr. Hj. Cellica Nurrachadiana, M.H.Kes (Teh Celly), guna memastikan setiap kendala di sektor agraris mendapatkan atensi serius di tingkat pusat.
Acara ini bukan sekadar pertemuan formal, melainkan ruang dialog dua arah yang hangat dan konstruktif. Ketua BAM DPR RI, Ahmad Heryawan, menegaskan bahwa festival ini merupakan upaya nyata untuk memangkas jarak birokrasi antara pembuat kebijakan di Senayan dengan pelaku usaha tani yang berhadapan langsung dengan realitas di lapangan.
Menjadikan Karawang Tolok Ukur Kedaulatan Pangan
Sebagai daerah yang memegang predikat lumbung padi nasional, Karawang dipilih sebagai lokasi strategis festival ini. dr. Hj. Cellica Nurrachadiana atau Teh Celly menegaskan bahwa kedaulatan pangan nasional tidak akan pernah terwujud tanpa mendengarkan suara para “pahlawan pangan” secara jujur dan transparan.
“Melalui Festival Aspirasi ini, kami ingin memastikan bahwa kebijakan sektor pertanian ke depan benar-benar lahir dari kebutuhan riil para petani di lapangan. Kemandirian pangan bukan sekadar angka statistik di atas kertas, tapi tentang bagaimana petani kita bisa berdaya, tersenyum saat panen, dan sejahtera di tanahnya sendiri,” ungkap Teh Celly dalam sambutannya yang penuh semangat.
Menyisir Isu Krusial: Dari Pupuk hingga Perubahan Iklim
Selama kegiatan berlangsung, Teh Celly bersama rombongan BAM berkeliling meninjau berbagai stan pameran hasil tani dan inovasi teknologi pertanian. Beliau berdialog intensif dengan perwakilan kelompok tani mengenai berbagai masalah klasik yang masih menghantui, seperti:
- Distribusi Pupuk Bersubsidi: Kendala ketersediaan dan ketepatan sasaran alokasi pupuk.
- Fluktuasi Harga: Jatuhnya harga gabah di tingkat petani saat panen raya akibat permainan tengkulak.
- Perubahan Iklim: Tantangan kekeringan dan pergeseran musim tanam yang mulai berdampak pada produktivitas lahan.
Menurut Teh Celly, BAM DPR RI memiliki fungsi vital untuk mengawal aspirasi mengenai modernisasi alat mesin pertanian (alsintan) dan penguatan sektor pascapanen. Fokus beliau adalah agar petani tidak hanya ahli dalam proses tanam, tetapi juga mampu menguasai rantai nilai tambah melalui pengolahan hasil produksi.
Mendorong Sinergi dan Transformasi Digital
“Kami mendengar keluhan soal infrastruktur irigasi dan akses permodalan yang masih sulit ditembus oleh petani kecil. Saya bersama Kang Aher dan rekan-rekan di BAM akan membawa catatan ini ke rapat kerja dengan kementerian terkait. Kita harus dorong sinergi antara pusat dan daerah agar solusi yang diberikan tidak hanya bersifat top-down, tapi tepat sasaran,” tambahnya.
Festival ini juga menjadi ajang promosi digitalisasi pertanian. Teh Celly secara khusus mengajak generasi muda atau “petani milenial” untuk tidak ragu terjun ke dunia agribisnis yang kini mulai bertransformasi ke arah teknologi digital. Penggunaan aplikasi pemantau cuaca, pemasaran online, hingga teknologi drone untuk pemupukan diharapkan dapat meningkatkan efisiensi dan daya tarik sektor ini di mata anak muda.
Komitmen Mandiri Tanpa Impor
Di akhir acara, Teh Celly menegaskan bahwa kemandirian pangan adalah kerja kolaboratif jangka panjang yang memerlukan ketegasan politik. Beliau berharap kolaborasi antara BAM DPR RI, pemerintah, dan masyarakat tani dapat menjadi motor penggerak bagi Indonesia untuk benar-benar mandiri secara pangan tanpa harus bergantung pada kebijakan impor.
“Kemandirian pangan adalah harga diri bangsa. Kami akan terus berdiri di garda terdepan untuk memastikan bahwa setiap kebijakan yang diambil pemerintah pusat selalu berlandaskan pada keadilan dan kesejahteraan para petani lokal,” pungkas Teh Celly.







Tinggalkan Balasan