JAKARTA, INFODEMOKRASI.ID — Sebagai bagian dari upaya memperkuat sistem jaminan sosial nasional, Anggota Komisi IX DPR RI, dr. Hj. Cellica Nurrachadiana, M.H.Kes., yang akrab disapa Teh Celly, hadir langsung mengawal agenda krusial Uji Kelayakan dan Kepatutan (Fit and Proper Test) calon Anggota Dewan Pengawas (Dewas) BPJS. Proses seleksi ini merupakan tahapan menentukan bagi calon pimpinan pengawas di lingkungan BPJS Kesehatan maupun BPJS Ketenagakerjaan untuk periode mendatang.
Kehadiran Teh Celly dalam proses ini menegaskan posisinya sebagai legislator yang sangat konsen terhadap isu kesehatan dan kesejahteraan pekerja. Bagi beliau, Dewan Pengawas bukan sekadar jabatan pelengkap, melainkan instrumen vital untuk memastikan dana amanat milik rakyat dikelola dengan benar.
Menjamin Prosedur yang Profesional dan Terbuka
Dalam kesempatan tersebut, Teh Celly memberikan perhatian khusus pada penjelasan alur dan mekanisme pelaksanaan ujian agar berjalan sesuai koridor hukum yang berlaku. Beliau menekankan bahwa setiap tahapan seleksi—mulai dari administratif hingga wawancara mendalam—harus mengedepankan prinsip profesionalisme dan keterbukaan informasi kepada publik.
“Publik berhak tahu siapa yang akan mengawasi dana kesehatan dan hari tua mereka. Karena itu, transparansi dalam setiap proses seleksi ini tidak bisa ditawar. Kita harus menghasilkan pengawas yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki integritas yang teruji,” tegas Teh Celly di sela-sela pemantauan di Gedung Parlemen.
Beliau juga turut menyaksikan secara langsung proses pengambilan nomor urut para kandidat yang dilakukan secara terbuka di hadapan pimpinan dan anggota Komisi IX lainnya. Pengambilan nomor ini merupakan langkah awal yang krusial karena menentukan urutan tampil para calon dalam memaparkan visi strategis dan menjawab tantangan dari para wakil rakyat.
Uji Gagasan Lewat Makalah yang Orisinal dan Solutif
Salah satu poin yang disoroti oleh dr. Hj. Cellica Nurrachadiana adalah penentuan tema pembuatan makalah yang telah ditetapkan oleh panitia seleksi. Tema-tema tersebut dirancang sebagai parameter untuk mengukur kemampuan analisis para calon terhadap problematika jaminan sosial yang dirasakan langsung oleh masyarakat di akar rumput.
Teh Celly menginginkan agar gagasan yang dituangkan oleh para calon Dewas bersifat orisinal dan solutif, bukan sekadar kutipan teori semata. Beliau berharap makalah tersebut mengandung terobosan nyata, misalnya bagaimana mengatasi antrean panjang di rumah sakit bagi peserta BPJS Kesehatan, atau bagaimana memperluas kepesertaan bagi pekerja sektor informal (bukan penerima upah) di BPJS Ketenagakerjaan.
“Kita butuh solusi praktis, bukan sekadar retorika. Makalah ini harus menjadi peta jalan bagi mereka jika nantinya terpilih. Dewan Pengawas harus tahu persis apa yang harus diperbaiki dari sistem yang ada saat ini,” tambah mantan Bupati Karawang tersebut.
Komitmen Anti-KKN dan Tanggung Jawab Moral
Aspek integritas menjadi poin utama yang ditegaskan kembali oleh Teh Celly saat menyaksikan proses penandatanganan surat pernyataan oleh para kandidat. Penandatanganan di atas materai tersebut merupakan janji sakral para calon untuk menjauhkan diri dari praktik Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme (KKN), serta fokus sepenuhnya pada kepentingan rakyat.
Menurut Teh Celly, surat pernyataan tersebut memiliki fungsi ganda; sebagai syarat administratif dan sebagai pengingat abadi bahwa jabatan Dewas memikul tanggung jawab moral yang sangat besar. Beliau secara tegas menyatakan tidak ingin ada anggota Dewas yang memiliki standar ganda atau terjebak dalam konflik kepentingan yang dapat merugikan pengelolaan dana amanat peserta.
“Uang di BPJS itu adalah keringat para pekerja dan uang negara yang harus dijaga. Jika pengawasnya saja punya kepentingan pribadi atau titipan dari pihak tertentu, maka hancurlah sistem pengawasan kita. Integritas adalah harga mati dalam seleksi ini,” ujarnya dengan nada bicara yang berwibawa.
Harapan Menjadi “Mata dan Telinga” Rakyat
Menjelang akhir rangkaian uji kelayakan, Teh Celly menyampaikan harapan besar agar seluruh proses ini dapat menyaring figur yang berani bersuara kritis. Beliau menegaskan bahwa Dewan Pengawas yang terpilih nanti harus mampu menjadi “mata dan telinga” rakyat di dalam tubuh manajemen. Dewas harus berani menegur direksi jika kebijakan yang diambil melenceng dari kepentingan peserta.
Melalui seleksi yang ketat ini, Teh Celly optimis kualitas pelayanan BPJS Kesehatan akan semakin prima dan perlindungan BPJS Ketenagakerjaan akan semakin inklusif menjangkau pelosok negeri. Beliau berkomitmen untuk terus mengawal proses ini hingga nama-nama terbaik disahkan dalam rapat paripurna dan diserahkan kepada Presiden untuk segera dilantik secara resmi. Bagi Teh Celly, keberhasilan seleksi ini adalah langkah awal menuju Indonesia yang lebih sehat dan sejahtera.







Tinggalkan Balasan