JAKARTA, INFODEMOKRASI.ID — Dinamika pengabdian seorang wakil rakyat menuntut fleksibilitas yang tinggi, bergerak dari urusan teknis kenegaraan menuju penguatan nilai-nilai sosiokultural. Hal inilah yang ditunjukkan oleh Anggota Komisi IX DPR RI, dr. Hj. Cellica Nurrachadiana, M.H.Kes (Teh Celly). Usai menuntaskan agenda kunjungan kerja lapangan yang intensif bersama Badan Aspirasi Masyarakat (BAM) DPR RI di Tangerang Selatan, Teh Celly langsung bertolak menuju pusat perayaan Tahun Baru Imlek 2026 yang digelar oleh keluarga besar Partai Demokrat di Jakarta.
Kehadiran Teh Celly dalam acara tersebut bukan sekadar memenuhi undangan seremonial, melainkan sebuah penegasan sikap politik dan kemanusiaan tentang pentingnya merawat keberagaman di tengah bangsa yang majemuk. Bagi Partai Demokrat, perayaan Imlek telah menjadi agenda tahunan yang sakral untuk memperkuat nilai nasionalisme religius yang menjadi fondasi partai.
Keberagaman sebagai Kekuatan, Bukan Pemecah
Dalam suasana yang didominasi ornamen merah yang melambangkan keberuntungan dan semangat, Teh Celly berbaur dengan para kader, tokoh masyarakat Tionghoa, serta jajaran pengurus pusat partai. Dalam keterangannya, mantan Bupati Karawang dua periode ini menyampaikan bahwa Indonesia adalah rumah besar bagi semua etnis dan agama.
“Tahun Baru Imlek adalah momentum bagi kita semua untuk berefleksi tentang sejauh mana kita telah menjaga persaudaraan antar-sesama anak bangsa. Saya hadir di sini sebagai wujud nyata kebersamaan dalam keberagaman. Kita ingin menunjukkan bahwa di bawah bendera Merah Putih, tidak ada warga kelas dua. Semua memiliki hak dan kehormatan yang sama dalam merayakan identitas budaya mereka,” ujar Teh Celly dengan penuh antusiasme.
Ia menambahkan bahwa semangat Imlek yang mengedepankan harapan baru, kerja keras, dan harmoni, sangat relevan dengan upaya bangsa Indonesia untuk bangkit menjadi kekuatan ekonomi dunia. Keberagaman yang dikelola dengan baik, menurut Teh Celly, akan menjadi energi kinetik yang luar biasa bagi kemajuan nasional, bukan justru menjadi pemicu friksi.
Penghormatan kepada Saudara Tionghoa
Teh Celly secara khusus memberikan apresiasi dan penghormatan kepada saudara-saudara etnis Tionghoa yang selama ini telah memberikan kontribusi besar bagi pembangunan Indonesia, mulai dari sektor ekonomi, sosial, hingga budaya. Baginya, toleransi tidak boleh berhenti pada kata-kata di atas kertas, melainkan harus diwujudkan dalam tindakan nyata berupa kehadiran dan pengakuan.
“Menghadiri perayaan ini adalah bentuk penghormatan tulus kami kepada saudara-saudara kita yang merayakan. Kita merayakan spirit pantang menyerah dan kekeluargaan yang mereka bawa. Dalam setiap lampion yang menyala, ada doa untuk kedamaian Indonesia. Inilah esensi dari Bhinneka Tunggal Ika yang sesungguhnya,” tambahnya.
Selama acara berlangsung, Teh Celly terlibat dalam diskusi hangat mengenai bagaimana inklusivitas politik dapat memberikan ruang bagi setiap warga negara untuk berkontribusi tanpa rasa takut akan diskriminasi. Ia menekankan bahwa Partai Demokrat akan terus konsisten menjadi garda terdepan dalam menjaga hak-hak konstitusional setiap pemeluk agama dan kepercayaan di tanah air.

Menyambung Silaturahmi pasca-Agenda Padat
Menariknya, agenda ini dilakukan Teh Celly tepat setelah beliau melakukan pemantauan sengketa lahan tol di Tangerang Selatan. Transisi dari urusan birokrasi yang kaku menuju perayaan budaya yang hangat menunjukkan sisi kepemimpinan yang adaptif. Teh Celly percaya bahwa seorang pemimpin harus mampu berdiri di semua kaki golongan.
“Setelah seharian berkutat dengan regulasi dan aspirasi lahan, hadir di perayaan Imlek ini seolah menjadi penyejuk. Ini mengingatkan saya bahwa tujuan akhir dari semua kerja politik kita di parlemen adalah kebahagiaan dan keharmonisan masyarakat. Apa gunanya pembangunan infrastruktur jika kohesi sosial kita rapuh? Karena itu, kegiatan seperti ini sangat penting untuk menjaga kewarasan kita dalam berbangsa,” jelas dokter yang dikenal dekat dengan rakyat ini.
Harapan untuk Indonesia di Tahun 2026
Perayaan ditutup dengan doa bersama untuk kemakmuran dan persatuan Indonesia. Teh Celly berharap, Tahun Baru Imlek 2026 membawa keberuntungan bagi bangsa, terutama dalam menghadapi tantangan global yang semakin kompleks. Ia mengajak seluruh elemen bangsa untuk membuang jauh-jauh narasi kebencian dan menggantinya dengan kolaborasi.
“Semoga tahun ini membawa keberkahan, kesehatan, dan kelancaran rezeki bagi kita semua. Mari kita terus jaga Karawang, Jawa Barat, dan Indonesia agar tetap rukun dan damai. Keberagaman adalah takdir Tuhan untuk Indonesia, dan tugas kita adalah memastikan takdir itu berbuah kebahagiaan bagi seluruh rakyat,” pungkasnya.
Dengan langkah ini, dr. Hj. Cellica Nurrachadiana kembali mempertegas profilnya sebagai politisi yang inklusif, toleran, dan senantiasa hadir dalam setiap detak kehidupan masyarakatnya, lintas agama maupun etnis.







Tinggalkan Balasan