Menolak Lupa: 28 Tahun Tragedi Trisakti, Mahasiswa Rawat Nyala Api Reformasi

|

1 Views

JAKARTA, INFODEMOKRASI.ID – Atmosfer khidmat sekaligus membakar semangat menyelimuti pelataran Kampus A Universitas Trisakti, Grogol, Jakarta Barat, pada Selasa (12/5/2026). Ribuan mahasiswa, dosen, alumni, hingga keluarga korban berkumpul bersama guna memperingati 28 tahun Tragedi Trisakti, sebuah peristiwa kelam pasca-penembakan empat pahlawan reformasi pada 12 Mei 1998 silam.

Peringatan tahun ini mengusung pesan mendalam untuk menolak lupa dan menolak diam atas sejarah perjuangan demokrasi yang belum sepenuhnya tuntas.

Bendera Setengah Tiang dan Tabur Bunga di Tugu Reformasi

Rangkaian acara dimulai sejak pagi hari dengan upacara khidmat dan penurunan bendera Merah Putih menjadi setengah tiang, diiringi lagu kebangsaan Indonesia Raya dan mengheningkan cipta bersama. Suasana mendadak haru saat perwakilan civitas akademika dan keluarga korban berjalan perlahan menuju Tugu 12 Mei Reformasi untuk meletakkan karangan bunga dan melakukan tabur bunga.

Empat nama mahasiswa yang gugur dalam peristiwa tersebut Elang Mulia Lesmana, Heri Hertanto, Hafidin Royan, dan Hendriawan Sie kembali digaungkan di mimbar bebas sebagai pengingat akan mahalnya harga sebuah reformasi.

“28 tahun telah berlalu, namun luka itu tidak pernah benar-benar sembuh. Kami di sini bukan hanya untuk meratap, melainkan untuk memastikan bahwa cita-cita reformasi dan keadilan bagi para korban tetap hidup di dada setiap generasi baru,” ujar salah satu perwakilan mahasiswa dalam orasinya di atas mobil komando.

Mimbar Bebas: Merawat Amunisi Ideologi Mahasiswa

Berbeda dengan aksi massa konvensional, peringatan tanggal 12 Mei 2026 kali ini lebih difokuskan pada penguatan ideologi dan pemahaman sejarah di kalangan mahasiswa. Pihak panitia menyelenggarakan pameran foto dokumenter kelam 1998, talk show sejarah, hingga simulasi aksi teatrikal yang menggambarkan detik-detik mencekam saat aparat merangsek masuk ke dalam kampus.

Langkah edukatif ini sengaja diambil agar mahasiswa masa kini tidak sekadar turun ke jalan tanpa memahami substansi dan akar sejarah yang mereka perjuangkan.

Pihak rektorat dan dosen pun memberikan dukungan penuh terhadap jalannya peringatan ini dengan memberikan dispensasi proses belajar mengajar demi memberikan ruang bagi mahasiswa untuk merefleksikan hari bersejarah tersebut.

Tuntutan Keadilan yang Belum Usai

Meskipun puluhan tahun telah terlampaui, kasus hukum terkait dalang utama penembakan peluru tajam dalam Tragedi Trisakti dinilai masih menyisakan utang sejarah yang belum tuntas dibayar oleh negara. Melalui mimbar bebas ini, keluarga besar Kampus Reformasi mendesak pemerintah agar berkomitmen penuh menyelesaikan pelanggaran HAM masa lalu secara transparan dan berkeadilan.

Peringatan 28 tahun Tragedi Trisakti ini diakhiri menjelang sore hari dengan doa bersama. Melalui peringatan ini, Universitas Trisakti kembali menegaskan statusnya sebagai episentrum moral yang akan terus mengawal jalannya demokrasi dan supremasi hukum di Indonesia.

Avatar Marwan

Artikel Menarik Lainnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *